Bab 81 Novel Romantis Pengantin Pengganti
Blog novel romantis kali ini akan memperkenalkan novel Kisah Pengantin Pengganti. Novel ini bergenre romantis dan sedang trend saat ini. Novel ini telah dibaca oleh 3 Jutaan penikmat novel di Indonesia.
Oh iya, Blog novel romantis merupakan blog yang berisi novel novel romantis yang sedang trend saat ini. Kamu akan membaca
novel sepuasnya di sini, dan tentunya gratis atau tidak perlu pakai koin
seperti penyedia penyedia novel yang lainnya.
Novel ini terkenal dengan
alur ceritanya yang mampu mengobrak abrik emosi
pembaca, Saya yakin kamu akan suka novel ini seperti saya. Ok, Silahkan baca
Novel Romantis Pengantin Pengganti sekarang.
Novel Romantis Pengantin Pengganti Bab 81
"Hei! Hari nampak mendung. Ayo!
Masuk."
Emily mengajak masuk ke villa resort, Emily
mulai membahas lagi bagaimana kelanjutan nasib Maharani, "Em ... apakah analisamu
itu akan benar terjadi?"
"Tentu saja! Aku adalah bukti
nyatanya," Jawab Yakin Khansa.
"Mengapa ayahmu itu bodoh
sekali!" hardik Emily.
"Pelaku dan bukti kejahatan sudah ada
di depan mata. Tapi, malah tidak mau melihatnya!" gumam kesal Emily.
"Gajah di depan mata tidak terlihat,
semut yang jauh terlihat" Emily mengumpamakan Maharani sebagai gajah dan
Khansa sebagai semut.
Jelas-jelas Maharani yang berlaku jahat,
tapi Fauzan Isvara enggan melihat kesalahannya. Sementara, Khansa yang tidak melakukan
apa-apa malah selalu disalahkan.
"Ayahmu itu, orang terbodoh di
dunia," hardik Emily lagi. :
Emily masih penasaran kenapa Khansa tidak
membiarkan Leon menghabisi semua musuh-musuh Khansa.
"Malam itu, kenapa kau malah menelpon aku?"
tanya Emily.
"Karena nomormu adalah nomor pertama
yang ada di daftar nomor darurat aku," jawab ringan Khansa.
"Mengapa bukan nomor suamimu?"
tanya Emily.
"Aku belum sempat mengganti, menyeting
ulang," jawab sembarang Khansa.
"Bagaimana cara kau melepaskan diri
dari mereka, kau pasti tidak pingsan bukan saat itu?" tanya Emily dengan
penasaran.
"Tentu saja tidak!" jawab Khansa
dengan bangga.
"Ketika mereka mencoba membiusku aku
mencoba menahan nafas agar indera penciumanku tertutup. Sedari kecil aku sudah
akrab dengan tumbuhan herbal, sehingga aku tahu mana makanan, minuman, dedaunan
sayur yang bisa menperkuat paru-paru kita, jelas Khansa.
"Jadi kau benar-benar menahan napas
sampai lebih dari satu menit? Karena itu kau tidak pernah pingsan." ujar
Emily.
"Kau ini! Apa kau baru sehari ini
mengenal aku hah!" Jawab Khansa lagi atas pertanyaan Emily.
Emily berpikir, sedari kecil Khansa akrab
dengan tanaman obat, jadi kemungkinan besar dia jadi kebal dengan obat bius itu,
karena Khansa juga kebal terhadap sebagian racun, jadi wajar jika obat bius itu
menjadi sia-sia.
"Jadi waktu itu kau hanya berpura-pura
pingsan?" tanya Emily lagi.
"Tentu saja," jawab Khansa dengan
tertawa bangga.
"Kau ini benar-benar pintar,"
puji Emily seraya memberi tanda jempol dan mengedipkan matanya.
"Eh tapi, dengan nama besar keluarga
Sebastian, maka menolongmu akan menjadi hal yang sangat mudah bagi mereka.
Ayolah! Suamimu itu pasti akan mau menolongmu, istrinya," ujar Emily membujuk
lagi.
Kahnsa masih saja mengggelengkan kepalanya.
Khansa hanya ingin mandiri dan mengandalkan diri sendiri, Emily tidak berhasil
membujuk Khansa untuk merubah pemikirannya.
"Hiish ... kau ini benar-benar
berkepala batu!" Gumam Emily seraya melemparkan satu bantal sofa ke wajah
Khansa.
Khansa melempar balik, bantal yang ada di
tangannya, "Ayo temani aku membeli hadiah untuk Leon."
"Dalam rangka apa?" tanya Emily.
"Tidak ada apa-apa," jawab
Khansa.
"Masa!" ujar Emily sedikit
menggoda.
"I-itu ... waktu itu dia sudah
memberikan aku Flash, harimau benggala. Jadi sekarang aku juga ingin membelikan
hadiah untuknya," jawab Khansa sembarang.
"Harimau?" tanya Emily.
Khansa menganggukan kepalanya, lalu Emily
kembali berkata, "Ketika kita memberikan hadiah kepada seseorang, biasanya
kita memilih berdasarkan kepribadian orang tersebut."
"Maksudmu, aku galak seperti
macankah?" tukas Khansa.
"Hissh sudah-sudah, tak ingin debat.
Ayo! Kita pergi," ajak Emily.
"Sebentar aku akan mengajak yang
lainnya," ujar Emily seraya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi
manajernya.
"Ayo! Kita bersiap, yang lainnya juga
akab ikut bersiap," ujar Emily lagi.
Emily juga mengajak manajer dan beberapa
staffnya untuk ikut berbelanja, pekerjaannya di Bali sudah selesai, dan Saatnya
bersenang-senang. Karena itu Emily mengajak Manajer dan asistennya.
Dengan mini van mereka semua pergi ke Mall,
begitu masuk ke Mall sontak saja dua wanita yang bagai dewi itu pun menjadi perhatian
utama.
Emily membawa Khansa masuk ke butik pakaian
pria dan asesoris pria, "Hadiah macam apa yang ingin kau berikan kepada Tuan
Sebastianmu itu?"
Ini pertama kalinya Khansa membelikan
hadian untuk pria, jadi dia sendiri pun merasa bingung. Melihat Khansa yang
terlihat bingung, Emily langsung saja menarik Khansa dan membisikan sesuatu.
"Satu set pakaian tidur seksi
saja!" ujar Emily sambil terkekeh.
Khansa langsung saja memukul bahu kawan baiknya
itu, memakai cadar saja sudah bisa membuat Tuan Muda Sebastian bernafsu
terhadapnya, apalagi jika Khansa berlaku genit kepada Tuan Muda Sebastian,
sudah pasti Khansa akan habis dikunyah-kunyah oleh suaminya itu.
Khansa mengamati ke deretan pakaian pria,
lalu melihat-lihat. Semua pakaian ini bagus, namun tetap saja kurang. Karena
pakaian Leon dibuat khusus hanya untuk Leon sendiri dari serat yang berkualitas
nomor satu.
"Hissh ... mencari satu hadiah aja,
mengapa jadi begitu sulit," pikir Khansa sambil menghela napas.
Khansa kembali melihat-lihat jenis pakaian
dan celana panjang yang ada disana, lalu matanya mengunci sebuah hadiah yang dirasa
sangat cocok untuk Leon.
“Ini akan terlihat bagus di pinggang
kuatnya Leon," pikir Khansa sambil tersenyum, mengingat ketika malam di
kamar Bar 1949. Di malam ketika Leon membuka tali ikat pinggangnya dan Khansa
bebas melihat pinggang kuatnya Leon.
Emily memperhatikan wajah Khansa nampak
memerah ketika memegang ikat pinggang itu di tangannya, Emily menyenggol bahu
Khansa "Sedang memikirkan apa?"
"Tidak ada ..." jawab khansa malu-malu.
"Apanya yang tidak ada! Itu semua tertulis jelas di wajahmu," Emily
menggodai Khansa.
"Mana ada .." tukas Khansa.
Khansa hanya bisa menjawab dengan Tergugup,
lalu segera melangkah ke kasir untuk membayar hadiah yang telah dia pilih.
"Yang ini saja," ujar Khansa
seraya meletakannya di meja kasir.
Ikat pinggang yang Khansa pilih terbuat
dari kulit murni dan bahkan dihiasi ornamen yang membuatnya tampak lebih formal
dan sempurna. Meski hanya di butik biasa namun Khansa menilai jika Leon yang
memakainya maka itu tetap akan terlihat berkelas dan membuat takjub saat melihatnya,
akan terlihat sangat berkualitas tinggi.
"Apa?" Khansa sedikit ternganga
ketika kasir menyebutkan harganya.
"15.000.000," Khansa mengulang
perkataan kasir tersebut.
Khansa memberikan kartunya kepada Kasir
tersebut, sedikit menggigit ujung bibirnya, "Ya sudahlah, esok kita
menabung lagi saja,"
Bisa saja Khansa menggunakan kartu Leon,
namun ini adalah hadiah, jadi tak enak rasanya jika masih harus memakai uang
Leon, jika seperti itu sama saja Leon yang membeli ikat pinggang ini, bukan
dirinya.
"Bisakah kau membungkusnya dengan
kertas kado!" pinta Khansa kepada kasir tersebut.
"Tentu Nona!" ujar kasir tersebut
dengan tersenyum.
"Terima kasih," jawab Khansa
ramah.
Khansa dan Emily menunggu beberapa saat,
memperhatikan betapa si kasir sangat lihai memotong kertas kado lalu
membentuknya menjadi bentuk yang unik, bentuk sebuah mobil karakter dari salah
satu film kartun yang terkenal.
"Ini Nona," ujar kasir seraya
memberikan kado yang telah rapih terbungkus.
"Bagus sekali!" puji Khansa.
Penutup
Bab 81 Novel Romantis Pengantin Pengganti
Bab 81 selesai, Bagaimana
isinya? Saya yakin kamu menyukainya dan tak sabar untuk pindah ke Bab
berikutnya. Gass yah.
Oh iya, Ingat baca novel
hanyalah hobi, tetap utamakan pekerjaan utama dan ibadah. Sekarang mari kita
lanjut ke Bab 81 Novel Romantis
Pengantin Pengganti. Klik navigasi Bab di bawah untuk melanjutkan.
