Bab 14 Novel Romantis Pengantin Pengganti
Blog novel romantis kali ini akan memperkenalkan novel Kisah Pengantin Pengganti. Novel ini bergenre romantis dan sedang trend saat ini. Novel ini telah dibaca oleh 3 Jutaan penikmat novel di Indonesia.
Oh iya, Blog novel romantis merupakan blog yang berisi novel novel romantis yang sedang trend saat ini. Kamu akan membaca
novel sepuasnya di sini, dan tentunya gratis atau tidak perlu pakai koin
seperti penyedia penyedia novel yang lainnya.
Novel ini terkenal dengan
alur ceritanya yang mampu mengobrak abrik emosi
pembaca, Saya yakin kamu akan suka novel ini seperti saya. Ok, Silahkan baca
Novel Romantis Pengantin Pengganti sekarang.
Novel Romantis Pengantin Pengganti Bab 14
Simon merasa sangat aneh,
kok bisa ada yang menyebut Leon sebagai sugar baby. Ini sama saja seperti
sedang mencari mati, menyerahkan nyawanya dengan cuma-cuma.
Memang benar Leon selama
ini hampir tidak pernah menampilkan identitas dirinya di depan khalayak umum,
hanya sedikit saja yang mengetahui bagaimana rupa Leon ini.
Karena selama ini Leon
tinggal di Villa Anggrek, yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang.
Tapi baru kali ini Simon
melihat, ada seseorang yang seperti baru saja kehilangan setengah otaknya,
dengan lantang beraninya merendahkan orang lain.
Simon memperhatikan Jihan
lagi, kira-kira apa yang akan dilakukan Jihan. Setelah Jihan mengeluarkan
secarik cek itu lalu dia berkata dengan malu-malu pada Leon kalau dia akan
menafkahinya, dan membujuknya lagi agar dia mau meninggalkan Khansa.
Simon benaran menahan
tawanya dan langsung saja mengacungkan dua jempol untuk keberanian Jihan ini,
sekaligus untuk kebodohan Jihan. Ketika mendengar janji Jihan yang akan
menafkahi Tuan Muda Leon.
Leon adalah Tuan Muda
dari keluarga Sebastian, cukup hanya dengan duduk saja sudah bisa menghasilakan
ratusan juta melalui transaksi yang dia lakukan yang cukup dia lakukan melalui
ponselnya, jadi sudah pasti hidupnya tidak perlu dijamin oleh orang lain.
Leon masih meletakkan
tangannya di dalam saku celana, dia lalu segera tertawa kecil dengan sinis
ketika mendengar tawaran Jihan lagi. Leon tidak menolak atau merasa
dipermalukan, tapi wajah Jihan malah memerah karena senyuman ini. Jihan juga
tidak tahu apa alasannya bisa malu di hadapan seorang sugar baby.
“A… Apa yang kamu tertawakan?”
tanya Jihan sambil menepuk-nepuk pipinya karena merasa wajahnya menghangat.
Leon mengernyitkan alis,
“Tidak apa-apa, percaya diri itu bagus, tapi lebih baik kamu pulang dan banyak
berkaca.”
Dengan acuh tak acuh,
Leon membalikkan badan lalu melihat Khansa yang ternyata sedari tadi
menyaksikan jika saudara tirinya itu terlihat sedang merayui suaminya ini.
Simon menyaksikan
tontonan ini dengan hati berdesir hebat, karena hal rayu merayu tadi terlihat
oleh kakak iparnya ini! Maka Simon berpikir jika akan ada kejadin seru
selanjutnya.
"Kak! Bagaimana ini?
Kakak ipar sedari tadi memperhatikanmu lho?" bisik Simon kepada Leon.
Leon yang tadinya masih
arogan langsung mengeluarkan kedua tangannya dari saku celana sambil
menjelaskan, “Aku tidak melakukan apa pun, kamu juga sudah lihat kalau Jihan
yang menggodaku,” ungkap Leon seraya mengangkat kedua tangannya, seperti posisi
orang yang sudah menyerah.
Sesaat kemudian, pria
yang dingin itu langsung berbicara dengan polosnya untuk mengadu pada Khansa.
"Tanyakan pada
dia!" ujar Leon lagi seraya menunjuk kepada Simon sebagai saksi untuk
membenarkan perkataannya.
"Ini benaran aku
sama sekali tidak menggoda saudara tirimu itu!" ujar lirih manja Leon.
Hal ini hampir membuat
Simon syok sampai seakan-akan kakinya terasa lunglai ringan bagai kapas.
Sementara itu, membuat Jihan semakin sakit hati.
Ibarat menabur garam di
atas luka, sungguh hati Jihan terasa perih ketika melihat Leon, sugar baby yang
diincarnya dengan susah payah malah memilih menja dengan gadis desa sepertu
Khansa.
"Hei! Itu sejak
kapan Kak Leon menjadi manja kepada wanita, cari perhatian sekali," gumam
Simon dengan bingung seraya mengusap-usap tengkuknya sendiri karena merasa
merinding.
"Iya! Apa yang kak
Leon katakan itu benar, dia yang menghalangi jalan Kak Leon dan malah merayunya
mati-matian," jelas Simon kepada Khansa.
Khansa berdiri di depan
Jihan, lalu bersedekap, berdecak mengejek seraya menggelengkan kepalanya.
Khansa dan Jihan pun mulai berdebat dan bertengkar.
"Apa kau ini sedang
berebut sugar baby dengan aku?" tanya Khansa dengan nada menyindir.
"Kau … kau tidak
pantas berbicara sombong di depan aku. Bersama aku maka kehidupan sugar baby
ini akan terjamin," jawab Jihan tak kalah sombongnya.
"Dan kau! urusi saja
suami penyakitanmu itu," ujar Jihan meledek.
"Apa kau tahu?
Khansa ini sudah bersuami," tukas Jihan sambil melihat ke arah Leon,
seakaan ingin memberitahu kebenaran yang telah Khansa sembunyikan.
"Kasihan suaminya!
Karena penyakitan malah membuat istrinya ini menjadi wanita liar lalu mencari
sugar baby," ujar Jihan ingin meprovokasi Leon, namun malah tanpa
diketahui dirinya baru saja menghina Leon di depan wajahnya sendiri.
"Aku adalah wanita
lajang, bersama aku tidak akan ada masalah di kedepan hari," bujuk Jihan
lagi kepada Leon.
"Hidupmu akan senang
dan penuh dengan kemewahan jika kau mengikuti aku," tukas sombong Jihan
sambil menunjukam wajah arogannya.
Khansa pun tertawa
sedikit terbahak-bahak, sambil memegangi perutnya, "Ah! Kau ini sungguh
lucu sekali, benaran lucu," ujar Khansa sambil melirik Leon yang wajahnya
sudah menghitam karena menahan marah karena dikatai penyakitan secara langsung.
Akhirnya Khansa meminta
Leon memberitahu pada Jihan tentang status kepemilikan diri Leon, "Katakan
kepadanya kau ini pria milik siapa?" ujar Khansa seraya bergelayut manja
kepada Leon.
Leon sangat senang ketika
Khansa berlaku manja kepadanya seperti ini, terlihat menyerupai seekor kucing
kecil yang sedang bermanja dengan tuannya, ditambah ketika Khansa meminta
kejelasan tentang hal status mereka dengan suara khas manja Khansa.
“Milik Sasa,” jawab Leon
sambil merangkulkan kedua tangannya ke pinggul ramping Khansa tersebut, lalu
mengecup ringan puncak kepala Khansa.
Lagi-lagi aroma wangi
Khansa benar-benar menguasai seluruh syaraf-syaraf di tubuh Leon. Dan itu tadi
benaran telah membuat Leon seperti mengalami kelumpuhan dalam sepersekian
detik.
Sementara itu, Hati
Khansa malah merasa berdebar ketika mendengar Leon mengatakan jawabannya itu.
Khansa segera menarik
pandangannya dan mengarahkan kembali kepada Jihan untuk menyembunyikan
kegugupannya dan debaran jantungnya yang seakan ingin melompat keluar dari
tempatnya.
Khansa memperingati Jihan
lagi, “Jihan, aku akan lupakan tentang masalah hari ini. Tapi, lain kali jangan
salahkan aku kalau tidak sungkan padamu jika aku melihatmu menggoda priaku
lagi!
"Apa sampai sini kau
sudah paham!" ujar Khansa menegaskan kembali peringatan yang baru saja dia
katakan.
Khansa menarik tangan
Leon, “Ayo kita pergi.”
Jihan menatap nanar
sekaligus benci kepada Khansa yang pergi begitu saja meninggalkannya dalam
suasana malu, berpikir mengapa gadis kampung tersebut begitu beruntung bisa
membuat pria setampan Leon menjadi sangat menyukainya.
Tingkat kebencian Jihan
kepada Khansa pun menjadi meningkat, bukan hanya bertambah satu tingkat, bahkan
saat ini sudah menjadi lebih berlipat-lipat dari sebelumnya.
Simon yang berada di
samping berkata, “Kakak iparku benar-benar keren!” pujinya.
Tiba-tiba saja Simon
menjadi pengagum berat Khansa, gadis kecil yang begitu cerdas, yang tidak goyah
meski keluarganya sendiri yang malah berlaku jahat dan menindas dirinya.
Jihan sangat emosi. Dari
awal dia sudah pernah melihat kehebatan bicara Khansa, tapi dia tidak menyangka
ucapan Khansa akan begitu kejam dan benar-benar mempermalukan harga dirinya
sebagai Nona Muda Isvara.
Penutup Bab 14 Novel Romantis Pengantin
Pengganti
Bab 14 selesai, Bagaimana
isinya? Saya yakin kamu menyukainya dan tak sabar untuk pindah ke Bab
berikutnya. Gass yah.
Oh iya, Ingat baca novel
hanyalah hobi, tetap utamakan pekerjaan utama dan ibadah. Sekarang mari kita
lanjut ke Bab 14 Novel Romantis
Pengantin Pengganti. Klik navigasi Bab di bawah untuk melanjutkan.