Bab 107 Novel Romantis Pengantin Pengganti
Blog novel romantis kali ini akan memperkenalkan novel Kisah Pengantin Pengganti. Novel ini bergenre romantis dan sedang trend saat ini. Novel ini telah dibaca oleh 3 Jutaan penikmat novel di Indonesia.
Oh iya, Blog novel romantis merupakan blog yang berisi novel novel romantis yang sedang trend saat ini. Kamu akan membaca
novel sepuasnya di sini, dan tentunya gratis atau tidak perlu pakai koin
seperti penyedia penyedia novel yang lainnya.
Novel ini terkenal dengan
alur ceritanya yang mampu mengobrak abrik emosi
pembaca, Saya yakin kamu akan suka novel ini seperti saya. Ok, Silahkan baca
Novel Romantis Pengantin Pengganti sekarang.
Novel Romantis Pengantin Pengganti Bab 107
"Direktur Sebastian ..." bisik
Khansa sambil meletakan kepalanya di bahu Leon.
Embusan napas Khansa terasa sangat menggoda
di leher Leon, "Direktur Sebastian, kau juga pasti menginginkannya
bukan?"
Sudut mata Leon menyipit, berpikir jika
Khansa terus menggodanya seperti ini, maka dia tidak akan bisa menyetir. Leon
mengulurkan satu tangannya dan langsung membiarkan Khansa berbaring di
pangkuannya.
Kepala Khansa merasa pusing, ingin bergerak
namun Leon menahannya, suara ancaman bernasa rendah dari Leon pun terdengar,
"Patuh! Atau jangan salahkan aku."
Ketika mabuk seperti ini, Khansa merasa
takut dengan Leon, lalu Khansa pun patuh diam tidak bergerak.
Mereka pun sampai di Villa Anggrek, Leon
turun dari mobilnya dan menggendong Khansa yang sudah mengantuk. Khansa
menggerakan wajah kecilnya menemukan posisi yang nyaman di bawah kemeja kerah
hitam Leon.
Leon menaikan satu alisnya sambil tersenyum
dengan penuh kasih sayang. Leon memeluk Khansa dan membawanya ke kamar mereka
dan dengan lembut menurunkan Khansa di atas karpet yang lembut.
Khansa berdiri dengan masih tidak stabil,
melihat sekeliling, lalu ingin berjalan ke arah ranjang besarnya. Khansa terhuyung,
tubuhnya akan terjatuh.
Lengan kuat Leon segera saja menangkap
tubuh ramping Khansa dengan cepat, seraya menggodanya, "Sengaja ingin
dipeluk ya?"
Segelas minuman tadi benar-benar membuat
tubuh Khansa memanas, "Direktur Sebastian ... bibir tipismu ...
indah."
Kedua tangan Khansa langsung saja menarik
kemeja Leon keluar, lalu memasukan kedua tangannya untuk meraba, merasakan
pinggang kuat Leon. “Ini benar-benar pinggang yang kuat," Leon menggulung
jakunnya, ke atas dan ke bawah. Leon mengulurkan tangannya dan membuka cadar
Khansa. pipinya memerah tampak sangat mempesona, "Apakah ingin bermain
permainan dewasa?"
"Apa kau akan merasa senang, jika
malam ini aku ingin memanjakanmu?"
Leon mengernyitkan alisnya, "Apakah
dia masih anggap aku pria simpananya?"
"Aku ini sangat mahal, apa sanggup
membayar aku?" tanya Leon dengan nada tertawa meledek.
"Tunggu!" ujar Khansa seraya
mengorek dalam-dalam kantong celana jeans. "Ini ... aku akan
membayarmu!" Jawab Khansa sembari menunjukan uang koin seribu rupiah.
Khansa mengambil tangan Leon, lalu berkata
"Direktur Sebastian, ini tip untukmu."
Menatapi koin di tangannya, Leon menaikan
satu alisnya lalu berkata, "Ayo! pergi mandi."
"Astaga Direktur Sebastian, kau mesum
sekali!" gumam Khansa.
"Hah! GR sekali!" tukas Leon.
"Mandi sendiri!" perintah tegas
Leon.
Khansa merasa tidak senang, lalu menendang
kaki Leon dengan marah, "Kenapa harus mandi sendiri! Aku ingin mandi
bersama denganmu."
Hati Leon semakin menggemas melihat Khansa
yang mabuk, ketika Khansa mabuk ternyata bisa menjadi begitu menggoda.
Leon berkata dengan nada suaranya yang
rendah, "Patuh yah!"
Khansa merasa sangat terikat dengan aura
dewasa Leon, Khansa berjinjit dan mengalungkan lehernya ke leher Leon,
"Aku mau cium."
Leon memalingkan wajahnya, mengambil ponsel
di atas nakasnya, menarik kakinya yang panjang dan pergi berdiri ke jendela.
Memegang ponselnya di satu telinga, mengangkat jari tanganya yang ramping lalu
membuka satu kancing atas kemejanya.
Hari sudah malam, berdiri di jendela,
melalui kaca jendela yang terang, semua lampu yang memantul berubah menjadi
dinding latar belakang pria itu. Leon terlihat elegan. Penampilannya yang kuat
terasa bagai magnet bagi Khansa.
Leon menoleh ke arah Khansa yang sedang
menatap marah kepada dirinya. Leon menatap Khansa dengan tajam, lalu menunjuk
tajam ke arah kamar mandi dengan matanya, memintanya untuk masuk dan mandi
dengan cepat. Tidak marah namun, berwibawa.
Meski marah, namun Khansa tidak berani
membantah, dan dengan patuh menyeret kakinya masuk ke kamar mandi besar mereka
meski enggan.
Ponsel di tangan Leon tersambung, dan
terdengar suara dingin dari Rendra, "Ada apa malam-malam menelponku?"
"Aku ingin bertanya, apa
penawarnya?" tanya Leon tanpa berbasa-basi.
"Tentu saja tubuhmu!" jawab
ringan Rendra dengan masih nada suara dinginnya.
Belum juga Leon selesai berbicara,
terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi.
Leon memutuskan sambungan telponnya,
melempar ponselnya ke ranjang lalu segera bergegas masuk ke kamar mandi,
"Landak kecil ini benar-benar merepotkan."
"Ada apa?" tanya panik Leon.
"Huaaaa ... kau sudah tidak menyukai
aku lagi hiks!" jawab Khansa sambil memegangi wajahnya yang memerah.
Leon memegangi dahinya dan tidak bisa
berkata apa-apa.
Sepasang bola mata hitam Khansa menatap
tajam kepada Leon, lalu menghardiknya "Kau pencuri!"
"Kembalikan hatiku!" ujar marah
Khansa seraya mengulurkan tangannya untuk menggeledah tubuh Leon.
Menyadari apa yang Khansa lakukan, Leon
secepat kilat menangkap tangan Khansa, sembari mengancamnya dengan suara
magnetisnya, "Jika masih saja berbuat onar, maka aku akan melanjutkan
keonaran ini diatas ranjang! Bagaimana?"
Khansa merengek nangis lagi, bulu matanya
yang panjang berkedip, Khansa menatapnya dengan sedih, "Apakah aku tidak
cantik?"
Leon menatap wajah kecil Khansa dengan
tatapan penuh kasih sayang, lalu menjawab "cantik."
"Bohong!" ujar Khansa.
"A-aku pasti sudah tidak cantik, kau
bahkan tadi menolak untuk aku cium ... huaaaa ... hiks," ujar Khansa
menangis.
"Huaaa ... Kau benaran sudah tidak
menyukai aku lagi," khansa semakin menangis.
Mata Leon menjadi gelap, dan akal yang
tersisa pun runtuh. Leon tidak ingin mengambil kesempatan ketika Khansa sedang
mabuk. Namun, Khansa berulang kali menggodanya dan menantang kodratnya sebagai
pria.
"Kau yang memintanya!" ujar Leon
seraya menunduk dan mentautkan bibirnya keras-keras di bibir merah Khansa.
Khansa merasa napasnya telah di tarik oleh
Leon dengan seketika. Kali ini Leon menciumnya dengan sangat ganas dan tidak
membiarkan dirinya sedikit pun untuk menolak.
Leon memeluk pinggang ramping Khansa lalu
mendorong pintu buram yang ada di kamar mandi, dan menekan tubuh Khansa hingga
menempel di dinding.
Ketika tangan Khansa mulai ingin melepaskan
ikat pinggang Leon, dengan cepat Leon melepaskan tautan bibirnya. Lalu
mengangkat satu tangannya dan menyalakan pancuran air.
Air dingin mengaliri tubuh keduanya, ini
sedikit membawa kesadaran kembali kepada Khansa. Khansa merasa terkejut dan
malah memeluk Leon.
Dengan tangannya yang besar Leon menekan
bahu Khansa ke dinding lagi agar merasakan kucuran air dingin dan akhirnya ini
berhasil mengembalikan kesadaran Khansa.
Leon terus menekan bahu Khansa, ini membuat
Khansa jadi marah, "Lepaskan!"
"Ini sangat dingin!" ujar Khansa.
"Sudah sadar? Apa masih ingin
menggeledah tubuhku! Mencari barangmu yang hilang?"
Khansa berpikir telah berbuat hal gila apa,
lalu menapuk wajahnya sendiri ketika teringat tentang apa yang baru
dikatakannya tadi.
Khansa merasa malu dan berharap untuk
pingsan saja, pada saat ini penglihatannya menjadi gelap, Leon mencoba ingin
menciumnya lagi. Tapi Khansa menolak Khansa menutup bibirnya dengan kedua
tangan imutnya.
Gerakan Leon terhenti, "Hissh sudah
berbuat onar, tapi malah sembunyi tangan,"
"Apa kau ini benar-benar mengangap aku
pria peliharaanmu?" tanya Leon.
“Ini aku kembalikan kepadamu!" ujar
ketus Leon sembari mengembalikan koin seribu rupiah ke tangan Khansa lalu
bergegas pergi ke luar kamar mandi.
Penutup
Bab 107 Novel Romantis Pengantin Pengganti
Bab 107 selesai,
Bagaimana isinya? Saya yakin kamu menyukainya dan tak sabar untuk pindah ke Bab
berikutnya. Gass yah.
Oh iya, Ingat baca novel
hanyalah hobi, tetap utamakan pekerjaan utama dan ibadah. Sekarang mari kita
lanjut ke Bab 107 Novel Romantis
Pengantin Pengganti. Klik navigasi Bab di bawah untuk melanjutkan.
